Tragedi yang terjadi di Pondok Pesantren Al Khozyni, Sidoarjo, Jawa Timur, telah menyita perhatian banyak pihak. Musala yang sebagian besar proses pembangunannya belum rampung itu ambruk pada Senin sore, saat ratusan santri melaksanakan Salat Asar berjemaah di dalamnya.
Hingga kini, jumlah korban meninggal dunia terkait insiden ini terus meningkat. Pencarian dan evakuasi korban di lokasi runtuhan sedang berlangsung, dengan kerjasama berbagai pihak tersebut menunjukkan betapa seriusnya situasi yang terjadi.
Setelah beberapa hari pencarian, para petugas berhasil menemukan total korban yang selamat dan meninggal. Kesedihan mendalam melanda para santri dan keluarga yang kehilangan anggota terkasih mereka.
Rincian Korban dan Evakuasi yang Dilakukan
Melihat data terkini, korban yang ditemukan hingga Jumat malam jumlahnya mencapai 117 orang. Dari jumlah tersebut, 103 orang berhasil diselamatkan, sementara 14 orang dinyatakan meninggal dunia, yang menunjukkan betapa dramatisnya situasi ini.
Pencarian yang dilakukan oleh tim evakuasi di lokasi tragedi berlangsung dengan penuh tantangan. Korban yang belum ditemukan kini berjumlah 49 orang, yang membuat proses evakuasi sangat vital untuk segera dilaksanakan bagi anggota keluarga yang menunggu kabar.
Tim evakuasi fokus pada bagian utara reruntuhan, terutama pada area yang struktur bangunannya tidak terintegrasi. Penggunaan alat berat untuk membantu proses ini menunjukkan betapa seriusnya usaha yang dilakukan untuk mencari semua korban.
Proses Evakuasi dan Tantangan yang Dihadapi Tim
Tim SAR dan relawan telah bekerja tanpa henti untuk mencari korban, meski kondisi di lapangan sangat sulit. Pembongkaran puing-puing dan resurfacing reruntuhan membutuhkan ketelitian tinggi agar tidak menimbulkan risiko bagi tim yang terlibat.
Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi Basarnas, Emi Freezer, menekankan pentingnya keselamatan selama proses evakuasi. Pencarian yang berlangsung hingga malam hari menunjukkan dedikasi tim dalam menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa.
Musala yang ambruk merupakan struktur gedung dengan tiga lantai yang digunakan sebagai asrama santri putra. Ironisnya, bangunan ini masih dalam tahap pembangunan sehingga meningkatkan risiko kecelakaan saat kegiatan keagamaan berlangsung di dalamnya.
Faktor Penyebab Ambruknya Bangunan
Penyebab pasti dari ambruknya musala masih dalam penyelidikan lanjut oleh pihak berwenang. Namun, banyak spekulasi bermunculan terkait masalah struktural yang mungkin terjadi selama pembangunan.
Beberapa warga setempat menyebut bahwa selama proses pembangunan, ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan kemungkinan masalah pada fondasi bangunan. Hal ini tentu harus diteliti lebih lanjut agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Pihak pengelola pondok pesantren juga harus mengambil langkah untuk memastikan keselamatan dalam setiap proyek pembangunan ke depannya. Transparansi dalam berkomunikasi mengenai prosedur pembangunan dan kelayakan struktur sangat penting untuk mencegah tragedi semacam ini di masa mendatang.











