Pasar properti di Indonesia pada akhir 2025 menunjukkan dinamika yang menarik, menandakan perubahan signifikan dalam preferensi konsumen. Dengan pertimbangan mobilitas tinggi dan infrastruktur yang baik, banyak calon pembeli mulai beralih ke kawasan yang mendukung gaya hidup urban.
Menjelang tutup tahun, pasar hunian sekunder yang biasanya lebih aktif terlihat stagnan, diindikasikan oleh penurunan harga rumah dan suplai yang berkurang. Sikap wait-and-see ini berasal dari pemilik properti dan calon pembeli yang enggan mengambil tindakan besar.
Berbagai faktor yang memengaruhi pasar ini diakui oleh analis dan pengamat. Menurut laporan terbaru, kondisi ini lebih merupakan fase penyesuaian menjelang tahun baru dan bukan tanda melemahnya minat terhadap properti secara struktural.
Prediksi untuk tahun 2026 menunjukkan bahwa ketahanan pada harga properti kemungkinan akan terus berlanjut, mendukung harapan adanya pergerakan yang lebih dinamis dalam sektor hunian. Fokus konsumen kini terletak pada kualitas, lokasi, dan aksesibilitas, menjadikan sektor ini titik perhatian utama.
Preferensi Konsumen Bergerak ke Kawasan dengan Infrastruktur Matang
Di tengah stagnasi harga, pencarian hunian justru meningkat di kawasan dengan infrastruktur yang baik. Data terbaru mengungkapkan bahwa Tangerang telah menjadi kawasan paling diminati oleh pencari rumah, berkontribusi hingga 14,3% dari total pencarian nasional.
Konektivitas yang baik ke pusat bisnis, terutama di Jakarta Barat dan Selatan, menjadi pendorong utama permintaan di Tangerang. Selain itu, perkembangan sekitar BSD, Alam Sutera, dan Gading Serpong semakin menarik perhatian para pembeli.
Faktor transportasi juga tak kalah penting. Jakarta Selatan menyusul sebagai kawasan kedua paling terfavorit dengan pencarian mencapai 12,2%. Sistem transportasi terintegrasi, seperti MRT dan akses tol yang strategis, semakin menguatkan posisi kawasan ini.
Sementara itu, Jakarta Barat yang mencatatkan 10,9% pencarian mendapat dorongan dari akses langsung ke kawasan CBD, serta klaster hunian baru yang menawarkan berbagai tipe dengan fasilitas lengkap. Keseluruhan faktor ini menunjukkan bahwa pencarian dipengaruhi oleh akses yang mudah dan infrastruktur yang kuat.
Tampilan Pergerakan Harga Sangat Bervariasi di Berbagai Wilayah
Analisis harga menunjukkan bahwa ada variasi yang signifikan dalam pergerakan harga antara kota-kota di Indonesia. Misalnya, Bandung mencatatkan kenaikan harga bulanan tertinggi sebesar 1,0%, diikuti Jakarta dengan 0,2%. Hal ini mengindikasikan adanya daya tarik tertentu di masing-masing kota.
Secara tahunan, Denpasar memimpin dengan kenaikan harga rumah mencapai 3,4%, diikuti oleh Medan (2,1%) dan Bekasi (1,5%). Kenaikan ini menunjukkan bahwa beberapa kawasan masih memiliki daya tarik meskipun terdapat penurunan suplai secara nasional.
Namun, secara keseluruhan, pasar sekunder mencatatkan penurunan tahunan hingga 8,6%, menandakan bahwa banyak pemilik memilih untuk menahan aset mereka. Sikap ini mempertunjukkan kehati-hatian di kalangan pemilik properti hingga situasi pasar dinilai lebih stabil.
Dengan perbedaan ini, konsumen pun semakin selektif dalam mencari hunian. Mereka cenderung mempertimbangkan lokasi, ukuran, dan aksesibilitas sebelum membuat keputusan untuk membeli rumah.
Ukuran Hunian Menjadi Faktor Penting dalam Permintaan Pasar
Perubahan dari segi preferensi ukuran hunian juga terlihat jelas. Konsumen kini menunjukkan minat yang besar terhadap rumah kecil di lokasi pusat kota, dengan permintaan untuk rumah berukuran ≤60 m² di Jakarta Pusat melonjak hingga 28% secara tahunan.
Di Bekasi, ketertarikan pada rumah tipe menengah semakin meningkat, sementara Yogyakarta tetap mempertahankan permintaan tinggi untuk hunian berukuran besar. Hal ini mencerminkan adanya pengaruh tren urbanisasi dan kebutuhan akan ruang yang lebih besar.
Pola ini menunjukkan bahwa konsumen sangat mempertimbangkan kebutuhan ruang, lokasi, dan fasilitas yang ada. Kualitas lingkungan sekitar juga menjadi bagian penting dalam keputusan mereka, menunjukkan tren yang lebih cerdas dari para pembeli.
Riset menunjukkan bahwa kebutuhan akan hunian yang fleksibel dan multifungsi semakin menjadi prioritas. Konsumen kini menginginkan tempat tinggal yang tidak hanya nyaman, tetapi juga mendukung gaya hidup aktif.
Melihat Tren Pasar Properti di Tahun 2026 dan Tahun-tahun Selanjutnya
Menjelang tahun 2026, sejumlah kota di Indonesia tampak tetap menunjukkan ketahanan harga yang menarik meskipun pasar nasional melambat. Beberapa wilayah seperti Bekasi, Medan, dan Denpasar berhasil mempertahankan tren kenaikan harga yang positif.
Para analis optimis bahwa dengan penurunan suku bunga dan stabilisasi ekonomi yang diharapkan, sektor hunian memiliki potensi untuk kembali bergerak lebih dinamis. Ini menjadi harapan bagi pasar yang selama ini cenderung stagnan.
Di akhir 2025, konsumen yang semakin rasional terlihat sebagai gambaran nyata dari dinamika pasar. Fokus pada aspek konektivitas dan kualitas infrastruktur semakin berperan dalam keputusan pembelian, menyoroti perubahan paradigm yang terjadi di kalangan masyarakat.
Faktor-faktor tersebut menjadi landasan penting untuk pertumbuhan dan pemulihan pasar properti nasional di tahun mendatang. Sektor ini akan terus menjadi sorotan bagi para investor dan pembeli, terutama yang mencari opsi hunian yang sesuai dengan kebutuhan mereka.











