Kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak bencana di Sumatra telah ditentukan agar tetap bisa dilaksanakan mulai 5 Januari 2026. Meski demikian, pelaksanaan tersebut tidak akan sama di setiap daerah karena kondisi dampak bencana yang berbeda-beda. Hal ini disampaikan oleh Menko PMK saat melakukan peninjauan langsung di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta.
Menko PMK menegaskan bahwa meskipun terdapat tantangan akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir dan longsor, proses belajar tetap harus dilanjutkan. Untuk memfasilitasi hal ini, berbagai upaya sedang dilakukan, termasuk penggunaan tenda sebagai lokasi sementara untuk kegiatan belajar mengajar.
Menanggapi kondisi ini, Menteri Pratikno menginformasikan bahwa ada sekitar 587 sekolah yang saat ini masih dalam proses pembersihan, dan ditargetkan akan selesai sebelum tahun ajaran baru dimulai. Sejumlah sekolah telah bersiap untuk menerima siswa kembali setelah proses pemulihan selesai.
Pengaruh Bencana Terhadap Sekolah di Beberapa Daerah di Sumatra
Di Aceh, tercatat ada 2.303 sekolah yang terdampak bencana, dengan 1.773 di antaranya sudah siap untuk digunakan kembali. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar sekolah di daerah tersebut telah melakukan upaya pemulihan yang signifikan.
Sementara di Sumatera Barat, sekitar 500 sekolah juga mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, 431 sekolah dinyatakan rusak parah, yang mengarah pada keterlambatan pelaksanaan kegiatan belajar di sana.
Di Sumatera Utara, sebanyak 981 sekolah juga mendapatkan dampak dari bencana. Namun, dari total tersebut, 933 sekolah telah dinyatakan siap digunakan. Hal ini menunjukkan adanya respons yang cepat dan positif terhadap situasi darurat yang dihadapi.
Upaya dan Strategi Pemerintah dalam Mengatasi Pembelajaran Terdampak Bencana
Pemerintah telah memastikan bahwa meskipun beberapa sekolah harus menggunakan tenda sebagai tempat belajar sementara, kualitas pendidikan tetap menjadi prioritas. Tim dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berkomitmen untuk mengawasi pelaksanaan pembelajaran di lapangan.
“Kami menjamin bahwa Kemendikbud telah turun ke lapangan untuk memastikan bahwa proses belajar mengajar tetap berjalan meski dalam situasi darurat,” ujar Pratikno. Ini menunjukkan komitmen tinggi pemerintah untuk tidak mengabaikan hak anak-anak atas pendidikan.
Pembelajaran yang dilakukan di bawah tenda ini diharapkan tetap efektif dan berlangsung dengan semaksimal mungkin, meskipun dalam keadaan terbatas. Dengan dukungan yang tepat, diharapkan siswa tetap bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas selama masa pemulihan.
Pentingnya Pendidikan dalam Situasi Darurat dan Pemulihan
Pendidikan harus tetap menjadi prioritas utama meskipun dalam kondisi darurat. Keberlanjutan proses belajar mengajar dapat memberikan stabilitas dan harapan bagi anak-anak korban bencana. Hal ini juga penting untuk membantu mereka memulihkan diri dari trauma akibat bencana yang telah dialami.
Di samping itu, pemerintah dan lembaga terkait perlu mengedukasi masyarakat mengenai dampak bencana dan pentingnya persiapan bencana untuk mengurangi kerugian di masa depan. Kesadaran akan pentingnya pendidikan dalam situasi darurat perlu terus dikampanyekan.
Dengan pengawasan dan dukungan yang baik, proses pembelajaran di tenda pun diharapkan dapat berlangsung tanpa mengurangi mutu pendidikan yang diberikan. Ini menjadi tantangan bagi semua pihak untuk memastikan bahwa tidak ada generasi yang terputus dari pendidikan akibat bencana alam.













