Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan keinginannya agar Indonesia segera menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax. Rencana ini diharapkan dapat direalisasikan pada akhir tahun 2027, sebagai bagian dari upaya untuk mandiri dalam pengolahan energi.
Ia menegaskan, setelah menghentikan impor, Indonesia akan fokus pada pengolahan BBM melalui kilang domestik, meski masih tetap akan mengimpor minyak mentah. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI, Bahlil menjelaskan rencana jangka panjang yang mencakup penghapusan impor bensin RON 92, 95, dan 98 pada tahun 2027. Ini merupakan langkah penting untuk mengurangi frekuensi impor dan memaksimalkan potensi sumber daya dalam negeri.
Mengapa Mandiri Energi Sangat Penting bagi Indonesia?
Kemandirian energi menjadi isu yang sangat crucial bagi setiap negara, termasuk Indonesia. Dengan menyetop impor BBM nonsubsidi, Indonesia berharap dapat menghemat devisa serta meningkatkan perekonomian nasional.
Lebih lanjut, langkah ini juga berkaitan erat dengan pengembangan industri dalam negeri. Dengan mengolah sendiri, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan, tetapi juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru di sektor energi.
Upaya meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri terlihat jelas dalam rencana pemerintah. Jika sukses, Indonesia akan menjadi negara yang lebih berdaulat dan lebih mandiri dalam hal energi dan sumber daya lainnya.
Strategi Pengolahan dan Impor Energi Masa Depan
Dalam pernyataan tersebut, Bahlil juga menyebutkan akan tetap ada impor BBM subsidi, khususnya Pertalite. Langkah ini diambil untuk memastikan masyarakat yang membutuhkan BBM bersubsidi tetap terlayani, di tengah upaya mandiri yang lebih besar.
Selain itu, rencana untuk tidak mengimpor solar tipe CN 48 mulai awal tahun 2026 merupakan sinyal positif. Dengan adanya keseimbangan antara konsumsi dan produksi, Indonesia berpotensi untuk mandiri dalam beberapa jenis BBM.
Pembangunan infrastruktur, terutama dalam pengolahan energi, juga menjadi prioritas. Misalnya, proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang dijadwalkan dapat memenuhi kebutuhan energi dalam negeri tanpa bergantung pada impor.
Impak Penghentian Impor Terhadap Lingkungan dan Ekonomi
Langkah untuk mengurangi impor BBM tidak hanya akan berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada lingkungan. Dengan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dari luar negeri, Indonesia bisa mengurangi emisi karbon serta dampak negatif lainnya.
Selain itu, pengembangan energi terbarukan sebagai alternatif dapat dimaksimalkan. Ini sejalan dengan upaya global untuk beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung inovasi dalam sektor energi, dengan harapan bahwa ini akan mendorong efisiensi dan memberikan keandalan yang lebih besar bagi masyarakat dan industri.









