Korea Selatan saat ini tengah mengalami tren kuliner yang begitu heboh, dari kafe-kafe estetik di Seoul sampai ke media sosial. Kue kenyal yang dikenal dengan nama Dujjonku ini berhasil menarik perhatian banyak orang dan memicu antrean panjang untuk mencicipinya, menunjukkan betapa besar minat masyarakat terhadap inovasi makanan.
Kue ini terinspirasi dari struktur dan rasa cokelat Dubai yang sempat viral tahun lalu. Dengan bahan-bahan yang unik, Dujjonku bukan hanya menggoda rasa tetapi juga menawarkan pengalaman baru bagi pencinta kuliner di negeri ginseng.
Dujjonku adalah kue yang terbuat dari kataifi, sejenis kue kering yang populer di Timur Tengah. Setelah digoreng hingga renyah, kataifi ini dikombinasikan dengan krim pistachio, dibentuk menjadi bola, dan dibungkus dengan lapisan marshmallow dan kakao yang berkilau, menciptakan tekstur yang kenyal dan menarik saat disantap.
Asal Usul Dujjonku dan Inovasi Kulinernya
Kue ini pertama kali diciptakan oleh koki pastry, Kim Na Ra, yang terinspirasi dari permintaan seorang pelanggan. Pelanggan tersebut menyarankan penambahan isian khas cokelat Dubai, yang kemudian menjadi cikal bakal Dujjonku yang kita kenal sekarang.
Kim mengungkapkan bahwa dia kini memproduksi lebih dari 30.000 kue per hari dengan bantuan sekitar 50 karyawan. Penjualan harian kue ini mencapai angka fantastis hingga 130 juta won, menunjukkan betapa larisnya makanan ini di pasaran.
Saat tren ini merebak, banyak bakeri mulai mencoba menciptakan versi mereka sendiri dari Dujjonku. Keberagaman gaya dan kreasi ini menunjukkan bagaimana budaya makanan dapat berkembang dan beradaptasi.
Dampak Krisis Pistachio di Pasar Korea
Di balik kesuksesan Dujjonku, terdapat masalah signifikan yang sedang dihadapi, yaitu krisis pasokan pistachio. Lonjakan permintaan bahan baku ini berimbas pada kenaikan harga yang tak terhindarkan.
Melalui aplikasi pelacak harga, ditemukan bahwa harga pistachio melonjak tiga kali lipat dalam waktu singkat. Sebuah kantong pistachio seberat satu kilogram yang awalnya seharga sekitar 20.000 won, kini melonjak menjadi sekitar 80.000 won, sebuah peningkatan yang mencolok.
Akibat lonjakan harga ini, beberapa pemasok terpaksa membatalkan transaksi, kemudian menjual kembali stok pistachio yang mereka miliki dengan harga jauh lebih tinggi. Hal ini membuat persaingan semakin ketat, bahkan dapat terlihat di pasar barang bekas.
Strategi Kafe Menghadapi Tren Viral Dujjonku
Fenomena ini memaksa para pemilik kafe untuk memikirkan cara baru agar masyarakat tetap bisa menikmati Dujjonku. Beberapa di antara mereka mulai memberlakukan sistem pre-order atau membatasi setiap pelanggan hanya boleh membeli sejumlah tertentu.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap pelanggan memiliki kesempatan untuk mencicipi kue yang sedang viral tersebut. Kafe-kafe tidak ingin kehilangan pelanggan sekaligus menjaga kesetaraan akses terhadap Dujjonku.
Inovasi dalam dunia kuliner tidak hanya menuntut kreativitas, tetapi juga kemampuan untuk menyesuaikan diri dalam situasi yang tak terduga. Melalui pendekatan ini, diharapkan kafe dapat tetap bertahan di tengah permintaan pasar yang fluktuatif.
Kesimpulan: Tren Makanan yang Berkelanjutan
Menarik untuk melihat bagaimana Dujjonku telah mengubah lanskap kuliner di Korea Selatan, tidak hanya sebagai tren sesaat tetapi juga sebagai refleksi kecintaan masyarakat terhadap kuliner yang inovatif. Ini mencerminkan bagaimana makanan bisa menyatukan orang dan menciptakan pengalaman berbagi yang unik.
Seiring dengan kepopuleran Dujjonku, kita dapat berharap akan lebih banyak inovasi kuliner yang muncul di masa mendatang. Hal ini juga menggambarkan kekuatan dan pengaruh tren global yang ditangkap dengan cara yang khas dan lokal.
Dengan adanya tren Dujjonku, diharapkan akan ada daya dorong untuk pelaku industri makanan di Korea untuk terus berinovasi dan menciptakan produk-produk yang tidak hanya enak, tetapi juga menarik secara visual serta mampu merangsang selera konsumen.













