Keraton Kasunanan Surakarta akan menggelar upacara jumenengan, yang merupakan penobatan raja baru bernama Pakubuwono XIV, pada Sabtu, 15 November mendatang. Acara ini diprakarsai oleh ketua panitia GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, dan undangan telah disebar secara resmi kepada undangan yang terlibat.
Rangkaian acara Jumeneng Dalem Nata Binayangkare ini merupakan bagian dari pelestarian budaya lokal yang telah lama ada di Keraton Surakarta. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat rasa kebersamaan dan identitas masyarakat Surakarta.
“Dengan ini kami sampaikan bahwa Karaton Surakarta Hadiningrat akan menyelenggarakan rangkaian kegiatan Hajad Dalem Jumeneng Dalem Nata Binayangkare S.I.S.K.S. PAKOE BOEWONO XIV,” bunyi undangan resmi. Semangat untuk memperkuat tradisi dan melestarikan budaya ini dipandang penting bagi generasi mendatang.
Sejarah dan Makna Upacara Jumenengan di Keraton
Upacara jumenengan bukan sekadar acara seremonial, melainkan juga memiliki makna yang dalam bagi masyarakat Surakarta. Sejak berabad-abad lalu, penobatan raja baru selalu diiringi dengan berbagai ritual dan tradisi yang kental dengan nilai-nilai budaya. Masyarakat percaya bahwa setiap raja membawa pertanda baru bagi daerah yang dipimpinnya.
Dalam sejarah Keraton Kasunanan, jumenengan menjadi simbol harapan dan peralihan kekuasaan yang sah. Tradisi ini mencerminkan keberlanjutan dan kestabilan pemerintahan, serta konektivitas antara raja dan rakyat.
Selama upacara, berbagai ritual akan dilakukan untuk memohon restu dan berkah dari para leluhur. Hal ini tidak hanya untuk menghormati tradisi, tetapi juga untuk membangun jembatan spiritual antara pemimpin dan masyarakatnya.
Profil Raja Baru: Pakubuwono XIV
Pakubuwono XIV adalah putra mahkota dari KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra ing Mataram, yang dikenal sebagai Gusti Purbaya. Meski namanya belum sepenuhnya disepakati oleh seluruh keluarga keraton, sosoknya diharapkan dapat memimpin dengan bijak dan membawa kemajuan bagi Keraton Surakarta dan masyarakatnya.
GKR Timoer, yang merupakan putri dari Pakubuwono XIII, memaparkan bahwa dukungan dari masyarakat sangat diperlukan. “Kami memohon doa restu agar prosesi adat ini berjalan khidmat dan penuh berkah,” ujarnya.
Dengan harapan baru, Pakubuwono XIV diharapkan dapat melanjutkan warisan budaya yang telah ada serta membawa inovasi yang sesuai dengan perkembangan zaman. Di tengah dinamika ini, komunikasi dengan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan hubungan yang harmonis.
Proses Pengalihan Kekuasaan yang Deliberatif
Pengalihan kekuasaan dalam lingkungan keraton tidaklah sederhana. Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta menegaskan bahwa suksesi kepemimpinan harus dilakukan dengan bijak dan sesuai ketentuan adat. Rapat keluarga akan menjadi langkah awal untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Sementara itu, Kanjeng Gusti Panembahan Agung, yang juga dikenal sebagai KGPA Tedjowulan, saat ini menjalankan fungsi ad interim setelah wafatnya Pakubuwono XIII. Hal ini dilakukan untuk memastikan kelancaran administrasi keraton hingga penobatan raja baru.
Proses pengambilan keputusan di dalam keraton melibatkan banyak pihak, termasuk anggota keluarga besar yang memiliki andil dalam sejarah panjang Keraton Surakarta. Ini menjadi penting agar setiap langkah yang diambil mencerminkan tradisi dan keinginan masyarakat.











