Di Sidoarjo, sebuah insiden tragis terjadi ketika musala di dalam asrama Pondok Pesantren Al Khoziny ambruk pada sore hari. Musala tersebut dilaporkan tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) yang sah, menandai pelanggaran penting dalam aspek keselamatan konstruksi.
Bupati Sidoarjo, Subandi, mengungkapkan bahwa pihaknya belum menemukan dokumen izin bangunan tersebut. Hal ini tidak hanya menimbulkan rasa kesedihan, tetapi juga keprihatinan mendalam akan aspek keselamatan di institusi pendidikan Islam ini.
Kepala daerah menegaskan bahwa pembangunan gedung semacam itu harus dilakukan dengan mengikuti prosedur perizinan yang ketat. Kegagalan untuk melakukannya berpotensi membahayakan nyawa dan keselamatan para santri yang berada di dalamnya.
Dari hasil pemeriksaan di lokasi kejadian, ditemukan bahwa proyek pengecoran lantai tiga sedang berlangsung saat musala runtuh. Kejadian tersebut menciptakan dampak yang sangat merugikan, baik dari segi fisik maupun emosional bagi komunitas pesantren.
Proses Pengecoran yang Berisiko Tinggi
Akibat kejatuhan musala, situasi di lokasi kejadian menjadi sangat mencekam. Menurut pengasuh pondok pesantren, KH Abdus Salam Mujib, saat itu proses pengecoran dilakukan dan atap musala sedang dalam tahap penyelesaian. Sayangnya, bagian atap tersebut tidak mampu menahan beban, menyebabkan struktur bangunan roboh.
Mujib mengakui bahwa pengawasan terhadap kondisi konstruksi mungkin kurang maksimal. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya mematuhi prosedur yang berlaku dan memastikan semua sumber daya digunakan secara efektif untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.
Runtuhnya musala menyisakan duka mendalam, terutama karena satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat insiden tersebut. Korban yang selamat, berjumlah lebih dari 80 orang, segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan.
Bupati juga menilai perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pembangunan di berbagai pesantren di wilayahnya. Hal ini bertujuan untuk mencegah kejadian serupa di masa yang akan datang, memberikan jaminan bahwa keselamatan merupakan prioritas utama dalam pembangunan institusi pendidikan.
Dampak Emosional dan Sosial terhadap Para Santri
Di tengah proses pembangunan, musala itu tentunya sudah digunakan untuk kegiatan ibadah. Situasi ini menunjukkan kontradiksi yang signifikan antara niat baik untuk menyediakan fasilitas ibadah dan realitas yang berbahaya akibat pelanggaran perizinan.
Santri yang berada di lokasi pada saat kejadian sangat terpukul. Mereka mengalami trauma akibat insiden yang mereka saksikan secara langsung, menimbulkan konsekuensi jangka panjang yang perlu ditangani dengan bijaksana oleh pengurus pesantren.
Melihat jumlah santri yang terlibat dalam kegiatan salat berjemaah, kita dapat memahami betapa krusialnya peran musala dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kehilangan tempat untuk beribadah juga berarti kehilangan ruang sosial yang penting.
Pihak pengurus harus mencari cara untuk mengatasi situasi ini, baik dari segi psikologis bagi para santri maupun dari segi fisik sebagai pengganti musala yang hilang. Tindakan cepat adalah kunci untuk memulihkan semangat para santri dan membangun kembali rasa aman di lingkungan pesantren.
Pentingnya Mematuhi Prosedur Perizinan Konstruksi
Insiden ini menggugah perhatian luas terhadap pentingnya mematuhi prosedur perizinan dalam pembangunan sarana publik, termasuk tempat ibadah. Tindakan yang sembarangan bisa berujung pada bencana yang tidak hanya merugikan material, tetapi juga menyengsarakan banyak orang.
Dari sudut pandang hukum, memiliki IMB menjadi syarat utama untuk menegakkan regulasi yang ada. Pihak-pihak yang melakukan pembangunan tanpa izin berpotensi menghadapi konsekuensi yang lebih serius jika terjadi kecelakaan.
Kegagalan untuk memenuhi standar ini harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak yang terlibat dalam pembangunan. Masyarakat perlu memahami bahwa pembangunan harus dilakukan tidak hanya agar terlihat baik secara fisik, tetapi juga harus aman dan berkelanjutan.
Kesadaran akan pentingnya keselamatan konstruksi harus diajarkan kepada semua pihak, terutama yang terlibat dalam program pembangunan tempat ibadah. Dengan memberikan pemahaman yang baik, diharapkan insiden serupa dapat dihindari di masa depan.
Kejadian ini bukan hanya sekadar statistik, tetapi sebuah pengingat menyakitkan akan konsekuensi nyata dari kelalaian dalam aspek perizinan konstruksi. Semua pihak harus bersatu, bertindak demi keamanan dan kesejahteraan bersama, terutama di lingkungan pendidikan dan keagamaan. Dengan cara ini, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman untuk belajar dan beribadah.









