Fadli Zon, Menteri Kebudayaan, baru-baru ini memberikan penjelasan mengenai proyek buku sejarah Indonesia yang saat ini tengah dalam proses penyuntingan. Meskipun target awal menyebutkan bahwa buku ini akan rampung pada Agustus 2025, masih ada sejumlah tahap yang harus dilalui sebelum dapat diluncurkan ke publik.
“Menulis dan mengedit adalah dua langkah berbeda dalam proses pembuatan buku,” ungkapnya saat konferensi pers di Jakarta. Proses ini bukanlah hal yang sederhana dan memerlukan ketelitian tinggi agar hasilnya memuaskan.
Fadli juga menambahkan bahwa ia belum mendapatkan salinan buku tersebut karena belum diserahkan oleh tim penyunting. Kerja kolektif ini melibatkan berbagai ahli yang memiliki keahlian dalam bidang sejarah.
Proses Penyuntingan Buku Sejarah Indonesia yang Kritis
Dalam fase penyuntingan, penting untuk memastikan akurasi dan relevansi informasi yang disajikan di dalam buku. Fadli menjelaskan bahwa tim penulis dan penyunting bekerja secara independen, yang berdasar pada keahlian masing-masing.
Buku yang direncanakan memiliki 10 hingga 11 jilid ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru mengenai sejarah Indonesia. “Kami ingin memberikan pandangan yang berbeda dan lebih mendalam tentang sejarah negara kita,” tegasnya.
Penyuntingan ini diharapkan bisa menghasilkan karya yang berkualitas tinggi dan bisa diterima oleh masyarakat luas. Fadli menyatakan bahwa ia akan menunggu proses ini selesai sebelum memberikan penilaian lebih lanjut.
Harapan untuk Hari Sejarah dan Keterlibatan Sejarawan
Fadli menekankan harapannya agar buku tersebut dapat diluncurkan pada tanggal 14 Desember, bertepatan dengan Hari Sejarah. Ini menjadi tonggak penting bagi upaya penggalian dan penulisan sejarah yang lebih akurat.
Dari 112 sejarawan yang terlibat, mereka berasal dari 34 perguruan tinggi di Indonesia. Keterlibatan sejumlah ahli ini diharapkan dapat membawa variasi dan keanekaragaman perspektif dalam penulisan buku ini.
Pihak penyunting juga telah melakukan uji publik di sejumlah universitas, yang menunjukkan komitmen untuk mendengarkan masukan dan pandangan masyarakat akademis. Hal ini menjadikan proses penulisan lebih inklusif dan transparan.
Naskah yang Sudah Diuji Publik dan Temuan Baru dalam Sejarah
Uji publik telah dilakukan di beberapa universitas, termasuk Universitas Indonesia dan Universitas Lambung Mangkurat. Beberapa tanggal yang dicatat mencerminkan keterlibatan aktif akademisi dalam mewujudkan buku ini.
Naskah yang telah diuji mencakup sejumlah temuan dan hasil penelitian baru yang memberikan wawasan segar tentang sejarah bangsa. Ini termasuk perkembangan sosial, budaya, dan politik yang mungkin kurang diperhatikan dalam buku sejarah sebelumnya.
Fadli menjelaskan pentingnya menulis buku sejarah dari perspektif Indonesia, bukan hanya dari sudut pandang kolonial. Ini menjadi langkah menuju pengakuan identity bangsa dan warisan budaya yang lebih otentik.











