PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, atau BTN, berencana melakukan ekspansi bisnis yang signifikan menuju tahun 2026. Rencana ini mencakup akuisisi anak usaha di sektor asuransi dan perusahaan pembiayaan, sebagai bagian dari langkah strategis untuk meningkatkan model bisnis berbasis pembiayaan perumahan.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa rencana ini bertujuan untuk memperkuat permodalan di sektor asuransi serta mendirikan anak usaha baru yang akan fokus pada pembiayaan syariah. Langkah ini merupakan bagian dari inisiatif BTN untuk memenuhi kebutuhan nasabah dalam industri perumahan.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Nixon menyampaikan bahwa BTN juga mengusulkan penambahan modal di perusahaan asuransi. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja keseluruhan BTN, terutama dalam sektor pembiayaan perumahan yang menjadi fokus utama.
Langkah Strategis BTN dalam Ekspansi Bisnis
Saat ini, BTN tengah mengajukan permohonan kepada pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk memperoleh izin akuisisi perusahaan asuransi. Keputusan ini diharapkan dapat meningkatkan ekosistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang ada saat ini.
Nixon menyatakan bahwa kebutuhan BTN terhadap perusahaan asuransi sangat terkait dengan penyediaan mortgage insurance, yang merupakan jaminan bagi peminjam. Dengan adanya sistem asuransi yang lebih terintegrasi, BTN berharap bisa memberikan penawaran premi yang lebih kompetitif bagi nasabah.
Dia juga menekankan pentingnya adanya proses pengemasan produk asuransi yang lebih efisien. Dengan menggabungkan berbagai jenis asuransi menjadi satu paket, BTN ingin memudahkan nasabah dan menekan biaya premi yang harus dibayar.
Target Kinerja Utama BTN untuk Tahun 2026
Sejalan dengan rencana ekspansi ini, BTN telah menetapkan sejumlah target kinerja untuk tahun 2026. Pertumbuhan kredit yang diharapkan berada di kisaran 8-9 persen, meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyarankan agar target tersebut dapat ditingkatkan mengingat kinerja BTN yang baik di tahun sebelumnya.
Nixon menambahkan bahwa target pertumbuhan laba bersih juga dipatok cukup agresif, yakni di kisaran 20-22 persen. Hal ini diperkirakan dapat tercapai seiring dengan rampungnya penyelesaian masalah kredit bermasalah yang sebelumnya dihadapi BTN.
Dalam upaya efisiensi, BTN menargetkan agar biaya dana bisa turun di bawah 3,6 persen. Sedangkan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) diharapkan dapat turun di bawah 3 persen pada tahun yang sama.
Konsolidasi BUMN Asuransi dan Potensi Dampaknya
Rencana BTN untuk mengakuisisi perusahaan asuransi muncul di tengah konsolidasi besar-besaran yang direncanakan oleh BUMN asuransi. Badan Pengelola Investasi sedang mengupayakan pemangkasan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) asuransi dari 15 perusahaan menjadi hanya tiga perusahaan inti.
Managing Director dan Chief Economist di Danantara, Reza Yamora Siregar, menunjukkan bahwa mayoritas BUMN asuransi saat ini belum beroperasi secara optimal. Konsolidasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing di pasar asuransi.
Chief Operating Officer Danantara juga mengonfirmasi bahwa konsolidasi akan fokus pada pembentukan tiga pilar utama dalam sektor asuransi BUMN. Pilar tersebut mencakup asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit, sehingga lebih terintegrasi dan efisien.







