Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan telah mengambil langkah tegas dengan memberhentikan 27 pegawai pada tahun 2024 akibat pelanggaran serius. Keputusan ini diambil dalam upaya menjaga integritas dan kualitas sumber daya manusia di lembaga tersebut.
Selama tahun ini, DJBC juga mengadakan proses penjatuhan hukuman terhadap 33 pegawai terkait dugaan pelanggaran dan tindakan fraud. Langkah ini diharapkan dapat memberikan efek jera dan meningkatkan disiplin di lingkungan kerja.
“Kami berkomitmen untuk menindak tegas setiap pelanggaran disiplin sebagai bagian dari penguatan integritas di Bea Cukai,” ujar Nirwala Dwi Heryanto, Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai.
Mengapa Tindakan Tegas Diperlukan di Bea Cukai
Pelanggaran yang terjadi di lembaga pemerintah seperti Bea Cukai dapat berdampak besar pada kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah serius untuk menjaga citra dan kredibilitas lembaga ini.
Pemberhentian pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran diharapkan mampu mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih transparan dan akuntabel. Ini menjadi faktor kunci dalam menjaga kualitas pelayanan publik yang diberikan oleh Bea Cukai.
Dengan adanya tindakan tegas ini, diharapkan pelanggaran serupa tidak terulang di masa mendatang. Ini juga menjadi sinyal bagi pegawai lain untuk mematuhi aturan dan etika kerja yang berlaku.
Strategi untuk Penguatan Kinerja di Bea Cukai
Nirwala menyatakan bahwa pihaknya tengah menyusun berbagai strategi untuk menghadapi tantangan di masa depan. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi, seperti kecerdasan buatan, untuk meningkatkan efisiensi dalam penelitian nilai pabean.
Modernisasi laboratorium juga menjadi fokus utama untuk memastikan proses pengawasan dan penindakan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat. Ini penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban di sektor perdagangan internasional.
Penguatan kompetensi sumber daya manusia juga menjadi bagian dari strategi ini. Pelatihan dan pendidikan yang berkualitas akan meningkatkan kemampuan pegawai dalam menghadapi dinamika yang terjadi di dunia pabean.
Dampak Terhadap Penerimaan Negara dan Ekonomi
Dari sisi penerimaan, DJBC mencatat hasil positif dengan penerimaan bea cukai mencapai Rp269,4 triliun per November 2025. Ini menunjukkan pertumbuhan 4,5 persen dibandingkan tahun lalu, membuktikan adanya ketahanan di tengah tantangan ekonomi.
Rincian penerimaan mencakup bea masuk yang mengalami penurunan, sementara penerimaan bea keluar meningkat signifikan, khususnya karena lonjakan harga crude palm oil (CPO). Ini menjadi indikator bahwa sektor tertentu masih menunjukkan pertumbuhan yang baik.
Namun, sektor cukai mencatatkan tantangan tersendiri dengan penerimaan yang tetap tumbuh meski menghadapi penurunan produksi rokok. Ini menunjukkan bahwa DJBC perlu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di industri.









