Kepala Badan Pengelola Investasi menegaskan komitmennya terhadap tanggung jawab sosial corporate (CSR) di Indonesia. Dengan target penggunaan anggaran mencapai Rp1 triliun, fokus utama dana tersebut adalah pemulihan pascabencana di wilayah Sumatra.
Dana ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi para korban bencana seperti banjir dan longsor yang terjadi baru-baru ini. Pembangunan rumah hunian sementara menjadi salah satu prioritas utama dari program ini.
“Kami berkomitmen untuk menggunakan dana CSR secara efektif untuk membantu masyarakat yang terdampak,” ujar Rosan Roeslani, sambil meninjau lokasi pembangunan. Ia menyebutkan bahwa target pembangunan 15 ribu unit hunian sementara akan dicapai dalam waktu tiga bulan ke depan.
Proses Pembangunan Hunian Sementara untuk Korban Bencana
Rosan Roeslani menjelaskan pembangunan hunian sementara ini akan melibatkan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selain itu, target lokasi pembangunan dibagi di tiga provinsi yang terdampak banjir dan longsor.
Di Aceh, diharapkan tersedia sekitar 12 ribu unit hunian, sedangkan di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah masing-masing ditargetkan 2 ribu unit, serta 500 unit di Sumatera Barat. Hal ini dilakukan agar semua korban dapat mendapatkan tempat tinggal yang layak secepatnya.
Pada tahap awal, serah terima 600 unit hunian direncanakan pada tanggal 8 Januari. Pembangunan ini merupakan kerjasama yang melibatkan berbagai pihak untuk memastikan kualitas dan kecepatan dalam penyelesaian proyek.
Fasilitas Pendukung untuk Warga yang Terpenuhi
Selain menyediakan hunian, program ini juga mencakup pembangunan fasilitas pendukung. Fasilitas seperti taman bermain, jaringan Wi-Fi, dan tempat ibadah juga disiapkan untuk meningkatkan kualitas hidup warga.
Dengan demikian, kompleks hunian ini tidak hanya akan menyediakan tempat tinggal, tetapi juga berbagai fasilitas yang diperlukan agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman. Pembangunan unit-unit ini dilakukan di lahan milik PT Perkebunan Nusantara yang telah dibersihkan sebelumnya.
Setiap unit hunian memiliki ukuran yang cukup sesuai, yaitu sekitar 4,5 x 4,5 meter. Pengaturan ruang yang memadai diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar para korban bencana.
Partisipasi Tenaga Kerja dalam Proyek Pembangunan
Danantara juga melibatkan lebih dari seribu pekerja dalam proses pembangunan hunian ini. Pekerja yang terlibat akan bekerja dalam shift selama 24 jam demi memenuhi target waktu yang ditetapkan.
Tenaga kerja tersebut sebagian besar berasal dari BUMN Karya, untuk memastikan profesionalisme dan kualitas dalam setiap tahap pembangunan. Dengan keterlibatan banyak tenaga kerja, diharapkan proses pembangunan menjadi lebih efisien.
Melalui penggunaan tenaga kerja lokal, diharapkan juga akan berdampak positif pada perekonomian setempat. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam proyek ini semakin memperkuat keterikatan sosial di antara warga.
Kedepannya, Danantara juga merencanakan pembangunan hunian tetap di area yang berseberangan dari lokasi hunian sementara. Luas lahan untuk pembangunan hunian tetap mencapai 5,8 hektare dan masih bisa diperluas hingga 13 hektare.
Dengan rencana tersebut, Danantara memperlihatkan komitmen jangka panjang dalam membantu masyarakat yang terkena dampak bencana. Hal ini tidak hanya resolusi jangka pendek tetapi juga bagian dari strategi pemulihan yang lebih komprehensif.
Melihat langkah-langkah yang diambil, diharapkan semua program ini dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat maksimal bagi para korban bencana di Sumatra.











