Jakarta – Seto Mulyadi, yang lebih dikenal sebagai Kak Seto, baru-baru ini memicu perhatian publik dengan pernyataan sikapnya mengenai praktik child grooming. Hal ini terjadi setelah buku berjudul Broken Strings yang menceritakan pengalaman Aurelie Moeremans sebagai korban viral di kalangan masyarakat.
Dalam buku tersebut, Aurelie mengungkapkan pelaku child grooming dengan nama samaran Bobby. Seiring publikasi buku ini, Roby Tremonti, seorang pria yang mengaku pernah menikahi Aurelie, muncul di publik dan menunjukkan bukti dari hubungan mereka.
Perhatian publik juga tertuju kepada Kak Seto ketika muncul narasi bahwa orang tua Aurelie pernah meminta bantuannya sebanyak empat kali saat dia menjabat di Komisi Nasional Perlindungan Anak. Permintaan bantuan tersebut terjadi sekitar tahun 2010, namun hasilnya tidak sesuai harapan, menjadikan Kak Seto bahan perbincangan di media sosial.
Reaksi Kak Seto Terhadap Isu Child Grooming dan Exposur Medis
Dalam menghadapi isu yang mengemuka, Kak Seto menegaskan bahwa praktik child grooming adalah hal yang harus dikutuk tanpa kecuali. Melalui akun Instagram-nya, ia menyoroti dampak dari relasi yang tidak setara antara anak dan pelaku yang sering terjadi dalam situasi ini.
Kak Seto juga menyatakan bahwa anak tidak dapat diminta untuk bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi akibat manipulasi atau tekanan. Pandangan ini menunjukkan kepeduliannya terhadap perlindungan anak-anak di Indonesia, terutama dalam konteks hubungan yang penuh ketimpangan.
Salah satu poin kunci dari pernyataannya adalah pentingnya kesadaran masyarakat akan dampak dari praktik ini. Menurutnya, pendidikan dan pemahaman tentang hak anak harus ditingkatkan untuk mencegah kasus serupa terjadi di masa depan.
Peran Penting Pendidikan dalam Mencegah Kasus Child Grooming
Pendidikan adalah salah satu cara terpenting dalam menanggulangi isu child grooming. Dengan memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang hak-hak mereka, mereka dapat lebih siap menghadapi situasi yang tidak aman. Kak Seto menekankan bahwa pendekatan pendidikan perlu dimulai sejak dini.
Melalui program-program pendidikan yang inovatif, aspek-aspek seperti keamanan pribadi dan pengenalan bahaya harus diajarkan. Ini tidak hanya melibatkan anak, tetapi juga orang tua dan guru sebagai pengasuh utama yang dapat memberikan dukungan dan perlindungan.
Kak Seto percaya, keterlibatan aktif dari semua pihak—baik pemerintah maupun masyarakat—dapat menekan angka kasus child grooming di Indonesia. Kesadaran yang kolektif diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak.
Upaya Lain dalam Perlindungan Anak di Indonesia
Selain pendidikan, beberapa pendekatan lain juga diperlukan untuk memastikan perlindungan anak terjaga. Salah satunya adalah penegakan hukum yang lebih ketat terhadap pelaku child grooming dan kejahatan seksual lainnya. Tanpa sanksi yang jelas, pelaku cenderung leluasa melakukan tindakannya.
Kak Seto juga mendorong partisipasi masyarakat untuk melaporkan kasus-kasus yang mencurigakan. Masyarakat perlu lebih peka dan tanggap terhadap lingkungan di sekitar mereka, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih awal sebelum ada korban.
Kolaborasi antara berbagai lembaga, mulai dari pemerintah hingga LSM, sangat diperlukan untuk memperkuat sistem perlindungan anak yang ada. Dengan pendekatan holistik, diharapkan dapat mencegah lebih banyak kasus di masa depan.











