Letusan Gunung Ili Lewotolok telah mengakibatkan dampak yang signifikan di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Abu vulkanik yang menyebar luas menyebabkan lebih dari dua puluh desa terdampak, sebuah peningkatan yang drastis dari situasi awal.
Dalam skala yang lebih besar, 27 desa kini menghadapi tantangan yang pelik akibat erupsi ini. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengungkapkan bahwa wilayah yang terpengaruh mencakup daerah yang sebelumnya tidak pernah mengalami kondisi serupa.
Perubahan jumlah desa yang terdampak menunjukkan betapa seriusnya situasi ini. Wilayah-wilayah yang terkena dampak mencakup Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, serta beberapa desa yang jauh dari pusat letusan.
Dalam Upaya Mengatasi Dampak Erupsi Vulkanik
Pemerintah daerah tengah berupaya untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh letusan ini. Meskipun aktivitas belajar mengajar terganggu, pemda belum menetapkan libur untuk sekolah-sekolah di wilayah tersebut.
Alasan di balik keputusan ini adalah belum adanya peningkatan signifikan dalam skala erupsi. Namun, kesulitan di lapangan menjadi semakin nyata dengan hadirnya masalah baru yang harus dihadapi.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah tercemarnya sumber air bersih. Hujan abu vulkanik telah menyebabkan air yang ditampung oleh masyarakat terkontaminasi, sehingga mengancam kesehatan warga.
Dampak Serius Terhadap Sumber Daya Alam
Selain air bersih, lahan pertanian juga mengalami kerugian besar akibat letusan ini. Tanaman yang biasa ditanam oleh para petani tidak dapat dipanen karena tertutup abu vulkanik.
Warga setempat melaporkan bahwa sayuran yang mereka tanam kini telah terkontaminasi dan tidak layak untuk dikonsumsi. Hal ini menjadi ancaman bagi ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Ketersediaan masker juga menjadi perhatian utama, mengingat dulunya stok yang ada di BPBD sangat terbatas. Masyarakat terpaksa menggunakan kain sebagai pelindung untuk menghadapi efek debu vulkanik yang mengganggu pernapasan.
Koordinasi dengan Berbagai Pihak Untuk Solusi
Dalam menghadapi krisis ini, BPBD sedang berkoordinasi dengan pihak swasta untuk distribusi air bersih. Meskipun anggaran terbatas, upaya penggalangan dukungan dari luar sangat diperlukan.
Langkah awal sudah diambil dengan melakukan identifikasi wilayah yang paling membutuhkan. Hal ini diharapkan dapat memberikan solusi cepat demi menjaga kesehatan masyarakat setempat.
Pemerintah provinsi juga dilibatkan dalam menghadapi kekurangan masker. Dengan dukungan yang lebih luas, diharapkan masyarakat bisa terlindungi dari ancaman debu vulkanik yang semakin meluas.











