Siswa Sekolah Dasar Negeri 11 Bungo Tanjuang di Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, menunjukkan semangat luar biasa meski mereka harus menjalani proses belajar mengajar di tenda darurat. Sejak awal Januari 2026, para siswa terpaksa belajar di luar ruang kelas menyusul ancaman ambruknya dinding tebing sekolah yang menjadi kebanggaan mereka.
Dengan antusias, siswa-siswi ini berusaha menyerap ilmu meski dalam kondisi yang tidak ideal. “Belajar di tenda darurat tetap asik dan seru,” ungkap salah satu murid saat diwawancarai.
Pihak kepolisian pun telah memasang garis polisi di area sekitar sekolah untuk menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi akibat keruntuhan. Hal ini dilakukan demi keselamatan anak-anak yang harus tetap belajar meskipun dalam situasi yang mengkhawatirkan.
Perjuangan para siswa di SD tersebut menunjukkan betapa besar tekad mereka untuk melanjutkan pendidikan. Meskipun cuaca terkadang sangat panas di siang hari, dukungan dari para guru menjadi sumber motivasi yang terus membakar semangat belajar mereka.
Pihak sekolah juga menyadari pentingnya memperbaiki kondisi bangunan agar pembelajaran dapat berlangsung dengan aman. Beberapa ruangan sekolah tidak bisa digunakan karena terancam ambruk, dan juga fasilitas wudu yang sudah hancur akibat hujan deras.
Pendidikan dalam Situasi Krisis: Tantangan dan Harapan
Pendidikan di tengah bencana merupakan tantangan besar bagi siswa dan tenaga pendidik. Di SD Negeri 11 Bungo Tanjuang, situasi ini sangat nyata dan berdampak pada proses belajar mengajar. Dengan enam kelas yang terancam ambruk, guru terpaksa menyesuaikan jadwal dan cara pengajaran.
Saat ini, dua kelas mengadakan kegiatan belajar secara bergantian di tenda darurat. Guru Herna Permata Sari menjelaskan bahwa proses belajar dimulai dari pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, sebelum pindah ke kelas yang lebih aman. Ini adalah penyesuaian yang dibuat untuk memastikan siswa tetap mendapatkan pendidikan meskipun dalam kondisi yang tidak menguntungkan.
Pengaturan waktu belajar ini adalah langkah penting agar para siswa tidak terjepit antara belajar dan risiko keselamatan. Akibatnya, pembelajaran menjadi lebih terfokus meskipun dilakukan di tenda. Hal ini juga mengajarkan siswa untuk beradaptasi dalam situasi sulit dan meningkatkan ketahanan mereka.
Namun, harapan tetap menggelora di hati setiap siswa dan guru. Mereka menantikan tindakan pemerintah untuk segera memperbaiki kondisi bangunan sekolah yang terkendala, agar proses belajar mengajar berlangsung dengan baik dan aman.
Perayaan semangat belajar di tengah badai masalah ini membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya tentang fisik sekolah, tetapi juga tentang bagaimana siswa, guru, dan masyarakat saling mendukung satu sama lain.
Peran Guru dalam Pembelajaran di Tenda Darurat
Di tengah bencana, peran guru sangat vital untuk menjaga semangat dan fokus siswa. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, guru seperti Herna Permata Sari menjadi pilar kekuatan bagi para siswa. Ia menyaksikan perjuangan dan gairah belajar setiap siswa meskipun dalam tenda.
Dukungan emosional dari guru sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif. Hal ini memberikan dorongan kepada siswa untuk tetap percaya pada pendidikan dan masa depan mereka, meskipun kondisi lingkungan di sekitar mereka tidak mendukung.
Herna juga berupaya membuat materi pelajaran yang menarik dan relevan dengan situasi mereka saat ini. Dengan demikian, siswa merasa terlibat dan tidak kehilangan motivasi dalam belajar. Metode seperti ini membantu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif.
Dalam komunikasi dengan orang tua, guru juga berperan aktif. Mereka memberikan informasi terkini mengenai perkembangan situasi sekolah serta pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua untuk mendukung pendidikan anak di masa sulit ini.
Guru di SD Negeri 11 Bungo Tanjuang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, ketahanan, dan semangat juang. Hal ini akan membekali siswa dengan kemampuan hidup yang berharga ke depannya.
Aksi dan Upaya Pemerintah untuk Mengatasi Problematika Pendidikan
Pemerintah daerah dan pihak terkait harus segera mengambil tindakan untuk memperbaiki infrastruktur sekolah yang terdampak. Dengan kondisi yang memprihatinkan, anak-anak berhak mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Sejak tahun lalu, perhatian pemerintah atas kondisi SD Negeri 11 Bungo Tanjuang semakin meningkat. Pemasangan garis polisi merupakan langkah awal, namun tidak cukup sampai di situ. Pemerintah perlu menyediakan dana perbaikan yang memadai untuk memastikan bangunan sekolah dapat digunakan kembali.
Kegiatan belajar mengajar di tenda darurat tidak bisa dijadikan solusi jangka panjang. Tindakan cepat dan konkret diperlukan agar proses belajar anak-anak tidak terganggu lebih lama. Perbaikan segera akan meningkatkan kualitas pendidikan dan membantu mengembalikan semangat siswa.
Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan skema pendidikan alternatif di wilayah bencana. Hal ini bisa mencakup pelatihan bagi guru dan pengembangan kurikulum yang sesuai dengan kondisi darurat, sehingga pendidikan tetap berlangsung meski dalam situasi krisis.
Melalui dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, diharapkan pendidikan di SD Negeri 11 Bungo Tanjuang dapat terus maju. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa, yang harus diwujudkan bersama-sama. Pendidikan adalah hak setiap anak, dan saatnya untuk memastikan hak tersebut terpenuhi, meskipun dalam situasi bersahabat atau berbahaya.











