Organisasi penggemar sepak bola, Football Supporters Europe, mengeluarkan pernyataan tegas yang menyerukan FIFA untuk menghentikan penjualan tiket Piala Dunia yang akan datang di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Pernyataan ini dilatarbelakangi oleh harga tiket yang sangat tinggi, yang dapat menjangkau hampir US$9.000 atau sekitar Rp149,6 juta untuk kursi premium di final, sehingga membuat banyak penggemar merasa terpinggirkan.
Konsekuensi dari harga tiket yang melambung ini menarik perhatian luas, terutama setelah pengumuman harga yang dilakukan FIFA. Dengan harga yang mencapai tujuh kali lipat lebih tinggi dibandingkan Piala Dunia sebelumnya di Qatar, banyak penggemar menyebut hal ini sebagai “pengkhianatan monumental” terhadap tradisi turnamen.
Dalam upaya merespons harga tiket yang dikeluarkan FIFA, Football Supporters Europe menuntut adanya dialog yang lebih mendalam dan inklusif mengenai struktur harga menjadi penting demi kelangsungan hubungan yang baik antara organisasi dan para pendukung. Jika tindakan ini tidak diambil, organisasi khawatir bahwa dampaknya bisa merugikan atmosfer pertandingan Piala Dunia.
Protes Terhadap Harga Tiket yang Melambung Tinggi
Tuntutan untuk menghentikan penjualan tiket berkembang setelah banyak penggemar menyatakan ketidakpuasan mereka. Penetapan harga tiket yang tinggi dinilai menutup akses banyak kalangan untuk menikmati turnamen yang seharusnya menjadi momen berharga bagi semua penggemar sepak bola. Penggemar merasa dibatasi oleh biaya yang tidak terjangkau, terutama bagi mereka yang ingin mengikuti setiap pertandingan dari babak penyisihan hingga final.
Misalnya, satu penggemar yang ingin menyaksikan semua pertandingan di bulan Juni dan Juli mendatang dapat dikenakan biaya tidak kurang dari US$6.900 melalui saluran resmi. Hal ini menciptakan kekhawatiran bahwa hanya segelintir orang yang mampu menyaksikan pertandingan Piala Dunia ini secara langsung, sehingga mengurangi semangat kebersamaan penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Harga premium untuk tiket final yang mencapai US$8.680 sangat kontras dengan tiket sejenis yang hanya seharga US$1.600 saat Piala Dunia di Qatar. Ini menunjukkan adanya perubahan drastis dalam strategi penetapan harga FIFA dan menimbulkan tanda tanya mengenai tujuan sebenarnya dari organisasi tersebut.
Kritik Terhadap Transparansi Harga Tiket oleh FIFA
Kontroversi ini semakin memanas setelah FIFA meluncurkan fase ketiga penjualan tiket, yang kali ini menggunakan sistem harga variabel. Berdasarkan informasi dari FIFA, tiket akan diberi harga berbeda sesuai dengan daya tarik masing-masing pertandingan. Namun, belum ada penjelasan jelas mengenai bagaimana daya tarik ini diukur, menciptakan keraguan atas transparansi sistem ini.
Misalnya, tiket untuk pertandingan pembuka antara Inggris dan Kroasia dibanderol dengan harga US$523 untuk kursi di belakang gawang, sementara tiket untuk pertandingan serupa antara Skotlandia dan tim lainnya ditawarkan dengan harga lebih terjangkau. Situasi ini mengundang kritik bahwa kebijakan penetapan harga FIFA menciptakan diskriminasi antara penggemar.
Ronan Evain, Direktur Eksekutif Football Supporters Europe, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak harga tiket yang tinggi. Dia menekankan bahwa jika situasi ini dibiarkan berlanjut, atmosfer stadion yang menjadi daya tarik utama pertandingan Piala Dunia dapat hilang, dan pertandingan hanya akan dipandang sebagai acara komersial.
Keberpihakan FIFA dan Kontroversi Politik
Di luar masalah harga tiket, FIFA juga tengah menghadapi sorotan tajam terkait perilakunya yang dianggap tidak netral secara politik. Pujian yang diberikan presiden FIFA, Gianni Infantino, terhadap Presiden AS Donald Trump menimbulkan intrik dan pembayaran penghargaan perdamaian kepada pemimpin tersebut saat banyak pihak merasa dia tidak layak menerima award serupa. Hal ini menambah beban reputasi FIFA di mata publik.
Menyusul pernyataan kontroversial tersebut, kelompok hak asasi manusia FairSquare melayangkan keluhan kepada komite etik FIFA. Mereka mengklaim bahwa tindakan FIFA bertentangan dengan nilai-nilai integritas dalam sepak bola global. Ketegangan menyangkut politisasi sepak bola dapat menjadi bumerang bagi FIFA jika tidak ditangani dengan bijak.
FIFA sebaiknya menyadari bahwa penggemar sepak bola adalah jantung dari setiap pertandingan, dan mengabaikan keinginan mereka dapat berpotensi merusak fondasi turnamen yang telah ada selama ini. Sebuah dialog terbuka dan konstruktif antara FIFA dan para penggemar diperlukan untuk mencegah dampak negatif di masa depan.









