Peta kekuatan paspor dunia saat ini menghadapi perubahan signifikan, terutama menjelang tahun 2026. Laporan terbaru menunjukkan peningkatan jurang antara negara-negara dengan mobilitas tinggi dan rendah, di mana paspor menjadi elemen krusial untuk akses ekonomi dan peluang global.
Di puncak daftar, Singapura mempertahankan statusnya sebagai negara dengan paspor terkuat, memberikan akses bebas visa ke 192 negara. Sebaliknya, Afghanistan kembali menduduki posisi terakhir, dengan warganya hanya dapat masuk ke 24 negara tanpa visa, yang menandakan adanya kesenjangan besar dalam mobilitas global.
Dalam dua dekade terakhir, meskipun mobilitas global mengalami pertumbuhan yang pesat, manfaatnya tidak terasa merata di banyak negara. Dr. Christian H. Kaelin menyatakan bahwa ketidaksetaraan ini menciptakan tantangan bagi banyak warga negara dalam mencari peluang di arena global.
Pergeseran Dinamika Paspor Global Menuju Tahun 2026
Pergeseran dalam peta kekuatan paspor tidak hanya mencerminkan angka, tetapi juga membawa implikasi luas dalam hal ekonomi dan keamanan. Singapura, Jepang, dan Korea Selatan bersaing ketat di posisi teratas, masing-masing memberikan akses ke 188 negara tanpa visa.
Di tempat lain, negara-negara Eropa seperti Denmark, Luksemburg, dan Swedia mendapatkan tempat di jajaran atas berkat kebijakan keterbukaan perbatasan mereka. Hal ini menciptakan kondisi yang lebih baik bagi warga negara mereka untuk bepergian dan terlibat dalam perdagangan internasional.
Tetapi, di tengah peningkatan mobilitas untuk beberapa negara, ada juga suara yang memperingatkan akan risiko. Beberapa pemimpin dunia mulai memberlakukan kebijakan proteksionis yang mengurangi akses bagi warga negara asing.
Kebijakan Pemberian Visa dan Dampaknya di Berbagai Negara
Saat melihat kebijakan pemberian visa, jelas terdapat perbedaan yang mencolok antara negara-negara maju dan berkembang. Di satu sisi, warga negara AS memiliki akses ke 179 negara tanpa visa, namun negara ini justru sangat terbatas dalam memberikan akses kepada negara lain.
Dengan hanya memberi akses bebas visa kepada 46 negara, AS menempati peringkat lebih rendah dalam indeks keterbukaan. Hal ini menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh warga negara asing yang ingin mengunjungi AS.
Sementara itu, China menunjukkan tren sebaliknya dengan menerapkan kebijakan yang lebih terbuka, memberikan akses bebas visa kepada lebih dari 40 negara dalam dua tahun terakhir. Keterbukaan ini dianggap penting dalam meningkatkan hubungan internasional dan sebagai bentuk soft power.
Tantangan Keamanan dan Privasi dalam Mobilitas Global
Sebagaimana diketahui, tantangan dalam mobilitas global tidak hanya berbicara tentang akses, tetapi juga tentang keamanan dan privasi. Rencana kontroversial dari U.S. Customs and Border Protection untuk mewajibkan data pribadi yang sangat rinci dari warga negara merupakan langkah yang memicu banyak debat.
Mulai tahun 2026, warga dari 42 negara sekutu yang ingin masuk ke AS berpotensi harus menyerahkan berbagai data pribadi yang sensitif. Langkah ini menandai pergeseran dalam cara negara-negara memandang keamanan dan potensi ancaman dari luar.
Pemikiran bahwa akses mobilitas yang ketat bisa menjadi alat untuk menyaring ideologi dan memantau aktivitas warga negara menjadi topik hangat. Ini menimbulkan kekhawatiran mengenai penyalahgunaan data dan privasi individu, potensi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.
Perubahan pada kekuatan paspor global kemungkinan akan terus berdampak luas, baik bagi individu maupun negara. Kesadaran akan pentingnya kebijakan yang baik dalam hal akses dan keamanan juga semakin menjadi perdebatan penting dalam konteks internasional saat ini.
Adanya ketimpangan dalam akses mobilitas global juga menunjukkan perlunya kerja sama internasional yang lebih erat. Sebuah pendekatan yang mengutamakan keterbukaan dan kolaborasi akan sangat penting untuk mengatasi tantangan yang ada.
Dengan begitu, peta kekuatan paspor dan kebijakan yang mengikutinya dapat menjadi refleksi dari kondisi dunia yang semakin saling terkait. Keterbukaan dan dialog antar negara akan sangat berperan dalam menciptakan pergeseran yang lebih positif di masa depan.











