Hino, sebagai salah satu pelopor di industri kendaraan komersial, mengukuhkan diri sebagai merek yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tertinggi di Indonesia. Komitmen ini tidak hanya mencerminkan upaya mendukung industri otomotif nasional, tetapi juga memperkuat ekosistem manufaktur dalam negeri yang semakin mandiri.
Sejak dimulainya perakitan di Tanah Air pada tahun 1982 melalui Hino Indonesia Manufacturing, Hino terus berkembang dan kini dikenal sebagai Hino Motors Manufacturing Indonesia. Proses ini menunjukkan bagaimana perusahaan beradaptasi dengan pasar lokal dan meningkatkan kontribusinya untuk ekonomi nasional.
Kepemilikan mayoritas Hino oleh Hino Motor Ltd mencerminkan kepercayaan terhadap potensi pasar Indonesia yang besar. Dengan 90 persen saham dipegang oleh prinsipal dan sisanya oleh Grup Indomobil, investasi yang dikucurkan mencapai US$112,5 juta atau sekitar Rp1,9 triliun, sebuah angka yang mengesankan untuk industri kendaraan.
Menariknya, Hino berhasil memperoleh sertifikasi TKDN untuk 31 kendaraan niaga, baik bus maupun truk, dengan persentase TKDN yang bervariasi antara 44,35 persen hingga 57,26 persen. Hal ini menunjukkan bahwa Hino tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada pengembangan komunitas dan supplier lokal.
Peran Hino dalam Mendorong Pengembangan Industri Otomotif Nasional
Hino berkomitmen untuk menjadikan pabriknya di Purwakarta sebagai salah satu basis produksi utama untuk kendaraan niaga di Indonesia. Dengan luas area pabrik mencapai 296.000 m² dan luas bangunan lebih dari 169.000 m², fasilitas ini dirancang untuk mendukung produksi sebanyak 75 ribu unit per tahun.
Struktur pabrik yang dibangun dengan modern ini memperkerjakan sekitar 1.548 tenaga kerja, memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal. Dengan demikian, Hino tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Dalam upaya meningkatkan penggunaan komponen lokal, Hino menerapkan Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) sebesar 14,10 persen. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Hino untuk mendorong pemanfaatan komponen lokal serta pengembangan supplier di dalam negeri, yang pada gilirannya memperkuat rantai pasok industri otomotif nasional.
Harianto Sariyan, Director HMMI, menegaskan bahwa Hino memiliki misi untuk memproduksi kendaraan niaga yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga dapat bersaing di pasar internasional. Dengan demikian, Hino berperan aktif dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar global kendaraan komersial.
Ekspansi Hino untuk Pasar Global dan Domestik
Hino tidak hanya memproduksi kendaraan untuk konsumsi lokal, tetapi juga berkomitmen untuk menembus pasar internasional. Sejak ekspor perdana pada tahun 2011, Hino Indonesia telah secara konsisten mengekspor kendaraan utuh dan komponen ke berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara dan Asia Timur.
Produk-produk yang diekspor mencakup kendaraan utuh atau Completely Built Up (CBU) serta Knock Down (CKD). Beberapa negara tujuan ekspor meliputi Vietnam, Filipina, dan bahkan Jepang, menunjukkan bahwa kualitas produk Hino sudah diakui secara internasional.
Dengan konsistensi dan komitmen dalam ekspansi serta pemenuhan kebutuhan lokal, Hino berhasil menciptakan nilai tambah baik untuk perusahaan maupun masyarakat. Hino terus berinvestasi dalam teknologi dan inovasi untuk memperkuat posisinya sebagai pemimpin pasar di sektor kendaraan niaga.
Hino juga memperhatikan dampak lingkungan dari proses produksinya, menerapkan berbagai praktik ramah lingkungan dalam setiap tahap produksi. Hal ini sejalan dengan tren global yang semakin mengutamakan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Tantangan yang Dihadapi Hino dalam Industri Kendaraan Niaga
Tentunya, Hino tidak lepas dari berbagai tantangan di industri kendaraan niaga di Indonesia. Dengan semakin ketatnya persaingan di pasar, Hino perlu terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan untuk mempertahankan pangsa pasarnya.
Salah satu tantangan utama adalah integrasi teknologi baru dan elektrifikasi kendaraan. Sebagai respon, Hino memperkenalkan berbagai model kendaraan dengan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan untuk menarik minat konsumen. Penyesuaian ini menjadi sangat penting, terutama dengan tren global yang mulai beralih ke kendaraan listrik.
Selain itu, fluktuasi harga bahan baku juga menjadi tantangan signifikan bagi industri otomotif. Hino harus mampu mengelola biaya produksi dan tetap mempertahankan harga yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas produk.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Hino tetap optimis dalam menjalankan visinya untuk menjadi pemimpin dalam industri kendaraan niaga di Indonesia dan global. Dengan fokus pada pengembangan berkelanjutan dan peningkatan daya saing, Hino berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.













