Dalam perkembangan pasar properti Indonesia, harga rumah sekunder mengalami stagnasi menjelang akhir tahun 2025. Hal ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk penurunan suplai rumah dan melambatnya pertumbuhan tahunan di sektor tersebut.
Menurut laporan terbaru mengenai pasar properti, terdapat kontraksi pada pertumbuhan harga rumah yang mencapai 0,2 persen secara tahunan. Hanya dua kota, yaitu Jakarta dan Bandung, yang mencatatkan kenaikan harga bulanan, yang menunjukkan ketidakstabilan pasar di banyak daerah lainnya.
Perubahan-perubahan ini hadir di tengah berbagai tantangan yang dihadapi oleh konsumen. Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, sikap “wait and see” menjadi pilihan banyak orang sebelum mengambil keputusan investasi properti.
Mengapa Pasar Rumah Sekunder Tidak Berkembang?
Perlambatan ekonomi dan inflasi yang terus berlanjut menjadi faktor utama di balik stagnasi ini. Suplai rumah sekunder mengalami penurunan, yang terlihat dari indeks suplai yang turun 0,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Keengganan pemilik untuk menjual rumah mereka dalam kondisi pasar yang tidak menguntungkan mencerminkan kehati-hatian yang lebih besar. Banyak pemilik properti yang memilih untuk menunggu hingga harga kembali stabil sebelum memutuskan untuk menjual.
Selain itu, adanya ekspektasi bahwa suku bunga dan harga properti mungkin akan berubah dalam waktu dekat turut mempengaruhi keputusan konsumen. Hal ini menimbulkan ketidakpastian di antara para pelaku pasar yang ragu untuk melakukan transaksi besar.
Tren Harga di Beberapa Kota Besar
Di antara kota-kota besar di Indonesia, Bandung dan Jakarta menunjukkan performa terbaik sebagai pengecualian. Dalam laporan terbaru, Bandung mencatatkan kenaikan harga tertinggi, yakni sebesar 1,0 persen dalam sebulan.
Jakarta, meski dengan kenaikan yang lebih kecil, masih menunjukkan sedikit pertumbuhan, yakni 0,2 persen. Namun, di sisi tahunan, hanya ada beberapa kota yang mencatatkan kenaikan signifikan, di mana Denpasar menjadi yang paling mencolok dengan pertumbuhan sebesar 3,4 persen.
Menariknya, Denpasar menunjukkan ketahanan lebih baik dibandingkan inflasi nasional yang tercatat di angka 2,72 persen. Hal ini menandakan pasar di Denpasar masih memiliki daya tarik investasi yang kuat.
Dampak Suku Bunga dan Inflasi terhadap Pasar Properti
Dari sisi kebijakan, suku bunga acuan Bank Indonesia tetap berada di level 4,75 persen pada November 2025. Ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat.
Meskipun demikian, daya beli masyarakat terhadap properti belum sepenuhnya pulih setelah beberapa bulan inflasi tinggi. Inflasi yang terus melampaui pertumbuhan harga rumah membuat konsumen semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Para pengamat pasar percaya bahwa penting untuk memantau tren harga dan suplai. Hal ini untuk memastikan berbagai pihak, mulai dari konsumen hingga pemangku kepentingan, mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai dinamika pasar properti.













