Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terkait potensi cuaca ekstrem yang dapat melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Laporan ini menyebut bahwa kondisi cuaca akan tetap berisiko selama sepekan ke depan akibat pengaruh berbagai fenomena atmosfer yang terjadi secara simultan.
Selama beberapa hari terakhir, beberapa daerah di Indonesia mengalami hujan dengan intensitas yang bervariasi, dari yang lebat hingga ekstrim. Daerah seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Jabodetabek menjadi sorotan, di mana curah hujan tersebut dapat memicu banjir dan dampak negatif lainnya.
Fenomena Cuaca yang Mempengaruhi Indonesia Dekat dengan Akhir Bulan Ini
BMKG menegaskan bahwa perpaduan antara fenomena skala global, regional, dan lokal saat ini menjadi penyebab utama ketidakstabilan cuaca di tanah air. Melalui prospek cuaca mingguan, BMKG menyatakan bahwa berbagai faktor ini diprediksi akan terus berlanjut sampai akhir bulan.
Di tingkat global, salah satu komponen penting adalah Dipole Mode Index (DMI) yang saat ini terukur pada nilai −0.99. Nilai ini berfungsi sebagai indikator bahwa aktivitas pembentukan awan hujan di pesisir barat Sumatra akan meningkat.
Selain itu, kondisi La-Nina lemah juga berperan, dengan indeks Nino 3.4 yang menunjukkan nilai -0.95. Efeknya, potensi hujan di wilayah-wilayah tertentu, terutama di Indonesia bagian timur, akan meningkat selama periode ini.
Pengaruh Monsun dan Variasi Angin Terhadap Cuaca di Indonesia
Penguatan Monsun Asia, yang tercermin dalam nilai WNPMI yang signifikan, turut memperbesar kemungkinan terjadinya curah hujan. Dominasi komponen angin zonal barat di wilayah Indonesia juga meningkatkan pasokan uap air dari Samudra Hindia ke daratan, memicu pertumbuhan awan hujan lebih banyak.
Madden-Julian Oscillation (MJO), yang saat ini ada di fase 6, juga dianggap berpengaruh. Namun, secara spesifik, fenomena ini diperkirakan lebih aktif di Sumatra dan bagian utara Kalimantan.
Kombinasi dari MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator diperkirakan akan memberikan dampak yang signifikan di berbagai wilayah, termasuk Aceh dan Nusa Tenggara Barat, dengan peningkatan pertumbuhan awan hujan yang pesat.
Pergerakan Siklon Tropis dan Dampaknya Terhadap Cuaca
BMKG juga memperhatikan perkembangan siklon tropis FINA yang saat ini berada di Laut Arafura. Intensitas siklon ini diprediksi akan meningkat seiring penyerapan massa udara dari sekelilingnya, meskipun pergerakannya dijadwalkan menjauhi wilayah Indonesia.
Berdasarkan pergerakan siklon ini, intensitas hujan mungkin akan menunjukkan penurunan, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Hal ini akan memberikan sedikit kelonggaran bagi daerah tersebut dari potensi hujan lebat.
Namun, perlu diwaspadai bahwa siklon ini juga dapat menyebabkan gelombang tinggi yang mencapai 4 meter, terutama di sekitar wilayah Laut Arafura dalam 24 jam ke depan.
BMKG juga telah mempublikasikan daftar wilayah yang diperkirakan akan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat selama sepekan ke depan. Menampilkan rincian tersebut sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan mengurangi risiko bencana.
Untuk periode 21-23 November, daerah yang berpotensi terkena hujan lebat mencakup Aceh, Sumatra Barat, DI Yogyakarta, hingga Kalimantan Selatan. Ini merupakan informasi krusial bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi cuaca buruk.
Selanjutnya, untuk periode 24-27 November, wilayah-wilayah yang dimaksud termasuk Aceh, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah. Dengan informasi ini, diharapkan masyarakat dapat mengambil langkah-langkah preventif sebelum cuaca ekstrem terjadi.











