Wilayah Indonesia dikenal sebagai salah satu daerah yang paling aktif secara tektonik di dunia. Dengan peningkatan jumlah sesar aktif yang teridentifikasi, masyarakat perlu lebih memahami potensi risiko gempa yang mungkin terjadi di sekitar mereka.
Pakar geologi dan seismologi telah melakukan penelitian mendalam untuk memetakan sesar-sesar ini. Pemetaan yang akurat menjadi penting untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur dan melindungi masyarakat dari dampak bencana.
Peningkatan Jumlah Sesar Aktif di Indonesia
Menurut informasi terbaru, saat ini terdapat 401 sesar aktif yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan pemetaan sebelumnya pada tahun 2017, yang mencatat hanya 272 sesar aktif.
Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Masyhur Irsyam, menjelaskan bahwa peningkatan ini tidak berarti Bumi menjadi semakin retak. Sebaliknya, kemajuan dalam data dan penelitian mengarah pada penemuan baru yang lebih akurat.
Pemutakhiran peta bahaya gempa ini melibatkan lebih dari 100.000 katalog gempa dari berbagai lembaga terpercaya. Melalui teknologi dan metode modern, posisi dan karakteristik sumber gempa dapat ditentukan dengan lebih tepat.
Tim peneliti melakukan survei lapangan yang intensif, termasuk metode trenching dan pemetaan geomorfologi. Metode ini memberikan hasil yang lebih komprehensif mengenai keberadaan dan aktivitas sesar.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa lonjakan jumlah sesar aktif bukan hanya terjadi di Jawa dan Sumatra, tetapi juga di wilayah lain di Indonesia.
Detail Peta Sumber dan Bahaya Gempa Terbaru
Peta terbaru yang diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan penambahan segmen sesar berdasarkan hasil survei mendalam. Jawa dan Sumatra menjadi dua wilayah dengan peningkatan sesar aktif terbesar.
Penemuan di Jawa, khususnya di Jawa bagian utara, menunjukkan perubahan signifikan dari hanya 36 segmen pada tahun 2017 menjadi 82 segmen pada tahun 2024. Ini mencakup area padat penduduk yang sebelumnya dianggap stabil.
Di Sumatra, segmen aktif meningkat dari 56 menjadi 86 segmen. Hal ini termasuk pemutakhiran pada Sesar Sumatra yang penting untuk diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah setempat.
Di wilayah Nusa Tenggara dan Banda, terjadi peningkatan segmen menjadi 68, sementara di Kalimantan, jumlahnya meningkat dari 3 menjadi 10 segmen. Kesadaran akan potensi gempa di Ibu Kota Nusantara semakin penting.
Dengan data yang lebih rinci, wilayah Maluku dan Papua mencatat sedikit penurunan, tetapi tetap menunjukkan bahwa pemantauan terhadap sesar sangat penting. Hal ini menciptakan tanggung jawab baru bagi para pemangku kebijakan untuk menghadapi potensi risiko gempa.
Pentingnya Kesadaran akan Risiko Gempa
Kesadaran akan potensi gempa di Indonesia harus ditingkatkan, terutama di daerah yang kini teridentifikasi memiliki sesar aktif. Struktur baru yang ditemukan menunjukkan bahwa banyak daerah yang sebelumnya dianggap aman mungkin berisiko.
Identifikasi yang tepat mengenai potensi gempa sangat penting dalam pengembangan infrastruktur dan kebijakan urbanisasi. Pembaruan standar konstruksi juga harus dilakukan agar sesuai dengan potensi risiko yang ada.
Tim peneliti berpendapat bahwa penambahan sesar aktif akan berdampak pada nilai bahaya gempa. Akibatnya, hal ini akan meningkatkan risiko bagi masyarakat yang tinggal di dekat area berisiko tinggi.
Kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang potensi gempa dapat mengakibatkan dampak yang lebih besar saat bencana terjadi. Masyarakat perlu diajak berpartisipasi dalam mitigasi risiko.
Masyhur Irsyam juga menjelaskan bahwa hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penyempurnaan berbagai standar konstruksi, termasuk bangunan tahan gempa yang sangat dibutuhkan di negara rawan gempa seperti Indonesia.











