Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini menginformasikan bahwa ada tiga sistem siklon yang terdeteksi di sekitar wilayah Indonesia. Di antara ketiga sistem tersebut, satu merupakan siklon aktif, sementara dua lainnya masih dalam tahap bibit yang belum berkembang secara signifikan.
Dalam pernyataannya, BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dan para pelaut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi yang dapat merugikan. Pengawasan yang lebih intensif perlu dilakukan untuk menghindari dampak negatif dari cuaca ekstrem ini.
Salah satu siklon yang terpantau adalah Siklon Tropis NOKAEN yang saat ini berada di sekitar Laut Filipina, tepatnya di sebelah timur laut Manila. Dikenal muncul pada tanggal 15 Januari dan berkembang dari bibit siklon tropis 91W yang lahir terlebih dahulu pada 12 Januari, NOKAEN kini berada dalam kategori 1.
Pergerakan Siklon Tropis Nokanen dan Dampaknya terhadap Indonesia
Siklon Tropis NOKAEN diprediksi akan bergerak ke arah timur-timur laut menjauh dari wilayah Indonesia dengan kecepatan sekitar 6 knots, setara dengan 11 km/jam. Walaupun mengarah menjauhi Indonesia, siklon ini masih membawa dampak tidak langsung, terutama gelombang tinggi di perairan tertentu.
Dampak tidak langsung dari Nokanen akan menyebabkan tinggi gelombang mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di bagian utara Maluku. Oleh karena itu, masyarakat perlu tetap waspada dan memastikan keselamatan ketika melaut terutama di perairan tersebut.
Selain itu, BMKG mencatat adanya Bibit Siklon Tropis 97S yang saat ini terlihat di sekitar Laut Timor utara Australia. Meskipun memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis, keberadaannya tetap memerlukan perhatian dari masyarakat setempat.
Potensi Hujan dan Angin Kencang di Beberapa Wilayah
Berdasarkan analisis terkini, Bibit Siklon Tropis 97S dapat menyebabkan terjadinya curah hujan tinggi dan angin kencang yang berpotensi mempengaruhi beberapa daerah. Diprediksi, Nusa Tenggara Timur akan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat selama periode ini.
Wilayah lain yang diperkirakan akan terkena dampak adalah Nusa Tenggara Barat, di mana hujan sedang hingga lebat dapat terjadi. Kondisi ini diperparah dengan potensi gelombang tinggi yang perlu diwaspadai oleh nelayan dan penduduk di daerah pesisir.
BMKG pun mengeluarkan pengumuman mengenai beberapa wilayah yang berpotensi mengalami gelombang laut tinggi, seperti Laut Banda, Laut Flores, serta perairan Kepulauan Kei hingga Kepulauan Aru. Pihak berwenang diharapkan dapat mengambil tindakan preventif untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh cuaca buruk ini.
Sejarah dan Perkembangan Sistem Siklon di Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga mengamati Bibit Siklon Tropis 96S yang sempat menjadi perhatian beberapa waktu lalu. Namun, status sistem ini telah berubah karena melemahnya intensitas dan tidak adanya indikasi untuk berkembang lebih lanjut.
Pelemahan yang terjadi pada Bibit Siklon Tropis 96S disebabkan oleh berkurangnya dukungan parameter atmosferik. Kecepatan angin yang tidak signifikan menjadi salah satu penyebab utama mengapa sistem ini dinyatakan tidak aktif oleh BMKG.
Dengan demikian, pemantauan terhadap potensi pertumbuhan sistem siklon sangat penting dilakukan di wilayah Indonesia yang merupakan salah satu kawasan rawan cuaca ekstrem. Ini menunjukkan perlunya kesiapan dalam menghadapi fenomena cuaca yang tidak terduga.











