Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengungkapkan keprihatinannya terkait dugaan pungutan tarif penggunaan layanan internet satelit untuk korban bencana banjir di Langsa, Aceh. Menurutnya, hal ini tidak dapat diterima karena Starlink telah memutuskan untuk memberikan akses gratis bagi para pengguna yang terdampak bencana selama satu bulan.
Nezar menekankan pentingnya menjaga solidaritas dan kemanusiaan saat bencana melanda. Dalam situasi seperti ini, pelayanan publik, termasuk akses internet, seharusnya diberikan tanpa biaya apapun untuk meringankan beban masyarakat.
Ia berkomitmen bahwa jika Starlink digunakan di posko pengungsi atau untuk tujuan umum, maka layanan tersebut akan sepenuhnya gratis. Namun, Nezar juga mengingatkan bahwa jika perangkat tersebut dimiliki secara pribadi, tidak ada jaminan yang sama akan berlaku.
Pernyataan Resmi dari Starlink terkait Pelayanan Internet
Starlink sendiri telah mengeluarkan pengumuman resmi yang menegaskan penggunaannya secara gratis selama periode darurat ini. Kebijakan ini bertujuan untuk membantu korban bencana agar tetap terhubung dengan keluarga dan pihak berwenang.
Menurut informasi yang disampaikan oleh Wamenkomdigi, layanan gratis tersebut berlaku secara khusus di daerah yang paling terkena dampak bencana, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya pungutan selama masa krisis ini.
Nezar juga mengingatkan masyarakat untuk tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak akurat yang beredar di media sosial terkait pungutan tarif yang tidak berdasar. Hal ini penting untuk menjaga kestabilan dan ketenangan di tengah krisis.
Reaksi Publik terhadap Dugaan Pungutan Tarif Internet
Diskusi tentang pungutan tarif tersebut mulai mencuat setelah salah satu pengguna media sosial mengunggah tangkapan layar dari percakapan yang menyatakan adanya biaya sebesar Rp20 ribu untuk penggunaan internet Starlink. Informasi ini segera viral dan memicu beragam reaksi dari masyarakat.
Banyak yang mengekspresikan ketidakpuasan terhadap dugaan tindakan pungutan yang dianggap tidak etis, terutama di tengah situasi sulit seperti bencana. Publik menekankan bahwa saat menghadapi kesulitan, seharusnya tidak ada pihak yang mengambil keuntungan.
Beberapa pengguna media sosial juga menyuarakan kritikan terhadap “mental preman” yang dinilai tidak pantas dihadapkan pada situasi krisis. Mereka berharap agar semua pihak memiliki kepedulian yang lebih terhadap sesama, terlebih ketika banyak orang yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Klarifikasi tentang Pungutan Tarif yang Beredar di Media Sosial
Salah satu pembicara utama dalam isu ini adalah akun yang mengawali viralnya informasi, yang kemudian memberikan klarifikasi. Dalam penjelasannya, disebutkan bahwa pungutan tarif tersebut bukan berasal dari layanan Starlink yang disediakan oleh pemerintah, melainkan dari pemilik perangkat pribadi.
Pembicara tersebut menjelaskan bahwa pungutan Rp10 ribu sebelumnya sebagai biaya sewa, terjadi karena bantuan dari Starlink terlambat datang. Penjelasan ini mengindikasikan bahwa situasi di lapangan memang lebih kompleks daripada yang dipahami banyak orang.
Pentingnya klarifikasi ini menjadikan masyarakat semakin paham akan konteks di balik rumor yang beredar. Informasi yang lebih jelas akan membantu meredakan ketegangan dan salah paham yang dapat timbul di media sosial.
Dukungan Konektivitas dari Starlink untuk Daerah Terdampak Banjir
Perangkat Starlink merupakan salah satu bentuk bantuan pemerintahan untuk memungkinkan masyarakat di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mendapatkan akses internet yang lebih baik. Ini merupakan langkah yang sangat penting dalam memperkuat jaringan komunikasi saat keadaan darurat terjadi.
Elon Musk, pemilik Starlink, juga menyatakan komitmennya untuk menggratiskan layanan internet selama masa-masa kritis seperti yang sedang dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Ini menunjukkan bahwa perusahaan mengambil langkah nyata untuk membantu komunitas yang membutuhkan.
Dengan demikian, diharapkan implementasi dari kebijakan ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat yang terdampak bencana, terutama dalam hal memperlancar komunikasi dan akses informasi yang sangat vital di masa krisis.











