Dua orang ditemukan tewas dalam keadaan menggantung di sebuah kamar kos di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Selasa pagi. Kedua korban, yang berinisial PAS (28) dan SBC (24), diduga adalah pasangan kekasih yang mengakhiri hidup mereka dengan cara tragis.
Korban PAS adalah seorang petani asal Desa Gobleg, sementara SBC adalah warga Desa Kubutambahan, Buleleng. Penemuan mereka menimbulkan duka dan pertanyaan di kalangan warga setempat, terutama terkait dengan kondisi mental dan emosional yang dapat menyebabkan tindakan ekstrem ini.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa penemuan ini adalah kasus gantung diri setelah melakukan pemeriksaan medis. Namun, cerita di balik tragedi ini mencerminkan tekanan yang mungkin dihadapi oleh pasangan muda tersebut.
Fakta Awal Penemuan Kasus Gantung Diri di Bali
Pihak kepolisian menerima laporan tentang kejadian ini pada pukul 10.30 WITA. Seorang saksi yang curiga karena tidak mendengar suara dari kamar kos tersebut memutuskan untuk mengetuk pintu berkali-kali, namun tidak ada jawaban.
Tidak lama setelah itu, seorang saksi lain yang merupakan pemilik kos datang dan meminjam kunci cadangan untuk membuka pintu. Namun, pintu kamar terkunci dari dalam dan menimbulkan rasa khawatir yang semakin dalam.
Saat seorang saksi mengintip melalui ventilasi, ia terkejut melihat kedua korban tergantung di antara kamar mandi dan dapur. Temuan ini segera dilaporkan kepada pihak berwajib untuk menyelidiki lebih lanjut kejadiannya.
Hasil Pemeriksaan dan Penyebab Kematian
Pihak kepolisian melakukan pemeriksaan dan menyimpulkan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan lain pada tubuh kedua korban. Satu-satunya penanda yang ditemukan adalah bekas jeratan di leher.
Dari pemeriksaan fisik, diperkirakan keduanya sudah meninggal antara dua hingga enam jam sebelum ditemukan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah mempertimbangkan tindakan ini jauh sebelum saksi pertama kali mengintip kamar kos tersebut.
Kepolisian juga mulai mengumpulkan keterangan dari berbagai saksi terkait situasi yang dihadapi kedua korban sebelum kejadian tragis ini. Motif utama yang terungkap adalah dugaan adanya hubungan asmara terlarang yang mengarah pada tekanan psikologis.
Motif Penyebab dan Konsekuensi Psikologis
Menurut informasi yang dihimpun, hubungan antara PAS dan SBC diduga melibatkan cinta yang rumit. PAS, yang telah beristri, diduga terlibat dalam hubungan yang tidak lazim dengan SBC yang masih lajang.
Hubungan ini diyakini memberikan tekanan emosional bagi keduanya, terutama bagi SBC, yang mungkin merasa terjebak dalam situasi tanpa harapan. Hal ini dapat menjelaskan mengapa keduanya memilih untuk melakukan tindakan tersebut sebagai jalan keluar.
Pihak kepolisian menggarisbawahi bahwa penting untuk memahami dampak psikologis dari hubungan asmara yang terlarang, karena hal ini dapat menyebabkan konsekuensi tragis seperti yang terjadi pada dua korban ini.













